Jumat, 10 Juni 2011

Desain dan Analisis Keamanan Jaringan Pertemuan 7

SSL dirancang untuk mengamankan sesi web, sedangkan SSH dirancang untuk menggantikan protokol telnet dan FTP. Keduanya mempunyai banyak fitur lain, tetapi tujuan utamanya memang untuk mengamankan komunikasi melalui internet.
SSL telah digunakan untuk mengamankan protokol-protokol yang insecure menjadi secure. SSL menjadi perantara antara pemakai dengan protokol HTTP dan menampilkan HTTPS kepada pemakai. Hal yang sama dapat dilakukan pula terhadap protokol-protokol insecure lain seperti POP3, SMTP, IMAP dan apasaja yang merupakan aplikasi TCP.
SSL tidak memberi apa-apa kecuali handshake dan enkripsi. Diperlukan aplikasi untuk membuat SSL menjalankan tugasnya. SSH sebaliknya menjalankan menjalankan sendiri banyak hal. Dua hal penting SSH adalah console login (menggantikan telnet) dan secure filetransfer (menggantikan FTP), tetapi dengan SSH anda juga memperoleh kemampuan membentuk source tunnel untuk melewatkan HTTP,FTP,POP3, dan apapun lainnya melalui SSH tunel.
Tanpa adanya traffic dari suatu aplikasi, SSL tidak melakukan apa-apa, tetapi SSH sudah membentuk encrypted tunel antara dua host yang memungkinkan untuk melakukan login shell, file transfer, dan lain sebagainya.
HTTPS menggunakan SSL untuk menjalankan HTTP yang secure dan HTTPS itu dapat dilewatkan melalui tunel yang dibentuk oleh SSH.

Cara Kerja SSL
Cara kerja SSL dapat kita lihat dengan tahapan – tahapan :
Langkah 1
Client membentuk koneksi awal ke server dan meminta koneksi SSL.
Langkah 2
Bila server yang dihubungi telah dikonfigurasi dengan benar, maka server ini akan mengirimkan client public key miliknya.
Langkah 3
Client membandingkan sertifikat dari server ke basisdata trusted authorities. Bila sertifikat ini terdaftar di situ, artinya client mempercayai (trust) server itu dan akan maju kelangkah 4. Bila sertifikat itu terdaftar, maka pemakai harus menambahkan sertifikat ini ke trusted database sebelum maju ke langkah 4.
Langkah 4
Client menggunakan Public Key yang didapatnya untuk men-enkrip sesi dan mengirimkan session key ke server. Bila server meminta sertifikat client di langkah2, maka clent harus mengirimkannya sekarang.
Langkah5
Bila server di-setup untuk menerima sertifikat, maka server akan membandingkan sertifikat yang diterimanya dengan basisdata trusted authorities dan akan menerima atau menolak koneksi

Desain dan Analisis Keamanan Jaringan Pertemuan 6.6

MD5
Dalam kriptografi, MD5 (Message-Digest algortihm 5) ialah fungsi hash kriptografik yang digunakan secara luas dengan hash value 128-bit. Pada standart Internet (RFC 1321), MD5 telah dimanfaatkan secara bermacam-macam pada aplikasi keamanan, dan MD5 juga umum digunakan untuk melakukan pengujian integritas sebuah file.
MD5 di desain oleh Ronald Rivest pada tahun 1991 untuk menggantikan hash function sebelumnya, MD4. Pada tahun 1996, sebuah kecacatan ditemukan dalam desainnya, walau bukan kelemahan fatal, pengguna kriptografi mulai menganjurkan menggunakan algoritma lain, seperti SHA-1 (klaim terbaru menyatakan bahwa SHA-1 juga cacat). Pada tahun 2004, kecacatan-kecacatan yang lebih serius ditemukan menyebabkan penggunaan algoritma tersebut dalam tujuan untuk keamanan jadi makin dipertanyakan.
Sejarah dan Kriptoanalisis
MD5 adalah salah satu dari serangkaian algortima message digest yang didesain oleh Profesor Ronald Rivest dari MIT (Rivest, 1994). Saat kerja analitik menunjukkan bahwa pendahulu MD5 — MD4 — mulai tidak aman, MD5 kemudian didesain pada tahun 1991 sebagai pengganti dari MD4 (kelemahan MD4 ditemukan oleh Hans Dobbertin).
Pada tahun 1993, den Boer dan Bosselaers memberikan awal, bahkan terbatas, hasil dari penemuan pseudo-collision dari fungsi kompresi MD5. Dua vektor inisialisasi berbeda I dan J dengan beda 4-bit di antara keduanya.
MD5compress(I,X) = MD5compress(J,X)
Pada tahun 1996 Dobbertin mengumumkan sebuah kerusakan pada fungsi kompresi MD5. Dikarenakan hal ini bukanlah serangan terhadap fungsi hash MD5 sepenuhnya, hal ini menyebabkan para pengguna kriptografi menganjurkan pengganti seperti WHIRLPOOL, SHA-1 atau RIPEMD-160.
Ukuran dari hash — 128-bit — cukup kecil untuk terjadinya serangan brute force birthday attack. MD5CRK adalah proyek distribusi mulai Maret 2004 dengan tujuan untuk menunjukka kelemahan dari MD5 dengan menemukan kerusakan kompresi menggunakan brute force attack.
Bagaimanapun juga, MD5CRK berhenti pada tanggal 17 Agustus 2004, saat kerusakan ''hash'' pada MD5 diumumkan oleh Xiaoyun Wang, Dengguo Feng, Xuejia Lai dan Hongbo Yu [1][2]. Serangan analitik mereka dikabarkan hanya memerlukan satu jam dengan menggunakan IBM P690 cluster.
Pada tanggal 1 Maret 2005, Arjen Lenstra, Xiaoyun Wang, and Benne de Weger mendemontrasikan[3] kunstruksi dari dua buah sertifikat X.509 dengan public key yang berbeda dan hash MD5 yang sama, hasil dari demontrasi menunjukkan adanya kerusakan. Konstruksi tersebut melibatkan private key untuk kedua public key tersebut. Dan beberapa hari setelahnya, Vlastimil Klima menjabarkan[4] dan mengembangkan algortima, mampu membuat kerusakan Md5 dalam beberapa jam dengan menggunakan sebuah komputer notebook. Hal ini menyebabkan MD5 tidak bebas dari kerusakan.
Dikarenakan MD5 hanya menggunakan satu langkah pada data, jika dua buah awalan dengan hash yang sama dapat dibangun, sebuah akhiran yang umum dapat ditambahkan pada keduanya untuk membuat kerusakan lebih masuk akal. Dan dikarenakan teknik penemuan kerusakan mengijinkan pendahuluan kondisi hash menjadi arbitari tertentu, sebuah kerusakan dapat ditemukan dengan awalan apapun. Proses tersebut memerlukan pembangkitan dua buah file perusak sebagai file templat, dengan menggunakan blok 128-byte dari tatanan data pada 64-byte batasan, file-file tersebut dapat mengubah dengan bebas dengan menggunakan algoritma penemuan kerusakan.
Efek Nyata dari Kriptoanalisis
Saat ini dapat diketahui, dengan beberapa jam kerja, bagaimana proses pembangkitan kerusakan MD5. Yaitu dengan membangkitkan dua byte string dengan hash yang sama. Dikarenakan terdapat bilangan yang terbatas pada keluaran MD5 (2128), tetapi terdapat bilangan yang tak terbatas sebagai masukannya, hal ini harus dipahami sebelum kerusakan dapat ditimbulkan, tapi hal ini telah diyakini benar bahwa menemukannya adalah hal yang sulit.
Sebagai hasilnya bahwa hash MD5 dari informasi tertentu tidak dapat lagi mengenalinya secara berbeda. Jika ditunjukkan informasi dari sebuah public key, hash MD5 tidak mengenalinya secata berbeda jika terdapat public key selanjutnya yang mempunyai hash MD5 yang sama.
Bagaimanapun juga, penyerangan tersebut memerlukan kemampuan untuk memilih kedua pesan kerusakan. Kedua pesan tersebut tidak dengan mudah untuk memberikan serangan preimage, menemukan pesan dengan hash MD5 yang sudah ditentukan, ataupun serangan preimage kedua, menemukan pesan dengan hash MD5 yang sama sebagai pesan yang diinginkan.
Hash MD5 lama, yang dibuat sebelum serangan-serangan tersebut diungkap, masih dinilai aman untuk saat ini. Khususnya pada digital signature lama masih dianggap layak pakai. Seorang user boleh saja tidak ingin membangkitkan atau mempercayai signature baru menggunakan MD5 jika masih ada kemungkinan kecil pada teks (kerusakan dilakukan dengan melibatkan pelompatan beberapa bit pada bagian 128-byte pada masukan hash) akan memberikan perubahan yang berarti.
Penjaminan ini berdasar pada posisi saat ini dari kriptoanalisis. Situasi bisa saja berubah secara tiba-tiba, tetapi menemukan kerusakan dengan beberapa data yang belum-ada adalah permasalahan yang lebih susah lagi, dan akan selalu butuh waktu untuk terjadinya sebuah transisi.
Pengujian Integritas
Ringkasan MD5 digunakan secara luas dalam dunia perangkat lunak untuk menyediakan semacam jaminan bahwa file yang diambil (download) belum terdapat perubahan. Seorang user dapat membandingkan MD5 sum yang dipublikasikan dengan checksum dari file yang diambil. Dengan asumsi bahwa checksum yang dipublikasikan dapat dipercaya akan keasliannya, seorang user dapat secara yakin bahwa dile tersebut adalah file yang sama dengan file yang dirilis oleh para developer, jaminan perlindungan dari Trojan Horse dan virus komputer yang ditambahkan pada perangkat lunak. Bagaimanapun juga, seringkali kasus yangterjadi bahwa checksum yang dipublikasikan tidak dapat dipercaya (sebagai contoh, checksum didapat dari channel atau lokasi yang sama dengan tempat mengambil file), dalam hal ini MD5 hanya mampu melakukan error-checking. MD5 akan mengenali file yang didownload tidak sempurna, cacat atau tidak lengkap.
Algoritma
Description: geser kiris menunjukkan perputaran bit kiri oleh s; s bervariasi untuk tiap-tiap operasi. Description: tambahanmenunjukan tambahan modulo 232. MD5 memproses variasi panjang pesan kedalam keluaran 128-bit dengan panjang yang tetap. Pesan masukan dipecah menjadi dua gumpalan blok 512-bit; Pesan ditata sehingga panjang pesan dapat dibagi 512. Penataan bekerja sebagai berikut: bit tunggal pertama, 1, diletakkan pada akhir pedan. Proses ini diikuti dengan serangkaian nol (0) yang diperlukan agar panjang pesan lebih dari 64-bit dan kurang dari kelipatan 512. Bit-bit sisa diisi dengan 64-bit integer untuk menunjukkan panjang pesan yang asli. Sebuah pesan selalu ditata setidaknya dengan 1-bit tunggal, seperti jika panjang pesan adalah kelipatan 512 dikurangi 64-bit untuk informasi panjang (panjang mod(512) = 448), sebuah blok baru dari 512-bit ditambahkan dengan 1-bit diikuti dengan 447 bit-bit nol (0) diikuti dengan panjang 64-bit.
Algoritma MD5 yang utama beroperasi pada kondisi 128-bit, dibagi menjadi empat word 32-bit, menunjukkan A, B, C dan D. Operasi tersebut di inisialisasi dijaga untuk tetap konstan. Algoritma utama kemudian beroperasi pada masing-masing blok pesan 512-bit, masing-masing blok melakukan pengubahan terhadap kondisi.Pemrosesan blok pesan terdiri atas empat tahap, batasan putaran; tiap putasan membuat 16 operasi serupa berdasar pada fungsi non-linear F, tambahan modular, dan rotasi ke kiri. Gambar satu mengilustrasikan satu operasi dalam putaran.

Desain dan Analisis Keamanan Jaringan Pertemuan 6

Algoritma Simetris (Algoritma Sandi Kunci Rahasia)
Algoritma simetris, sering juga disebut dengan algoritma kunci rahasia atau sandi kunci rahasia. Adalah algoritma kriptografi yang menggunakan kunci enkripsi yang sama dengan kunci dekripsinya. Algoritma ini mengharuskan pengirim dan penerima menyetujui suatu kunci tertentu sebelum mereka saling berkomunikasi. Keamanan algoritma simetris tergantung pada kunci, membocorkan kunci berarti bahwa orang lain dapat mengenkripsi dan mendekripsi pesan. Agar komunikasi tetap aman, kunci harus tetap dirahasiakan.
Sifat kunci yang seperti ini membuat pengirim harus selalu memastikan bahwa jalur yang digunakan dalam pendistribusian kunci adalah jalur yang aman atau memastikan bahwa seseorang yang ditunjuk membawa kunci untuk dipertukarkan adalah orang yang dapat dipercaya. Masalahnya akan menjadi rumit apabila komunikasi dilakukan secara bersama-sama oleh sebanyak n pengguna dan setiap dua pihak yang melakukan pertukaran kunci, maka akan terdapat sebanyak (n-1)/2 kunci rahasia yang harus dipertukarkan secara aman.

Contoh dari algoritma kriptografi simetris adalah Cipher Permutasi, Cipher Substitusi, Cipher Hill, OTP, RC6, Twofish, Magenta, FEAL, SAFER, LOKI, CAST, Rijndael (AES), Blowfish, GOST, A5, Kasumi, DES dan IDEA.

Algoritma Asimetris (Algoritma Sandi Kunci Publik)
Algoritma simetris, sering juga disebut dengan algoritma kunci publik atau sandi kunci publik, menggunakan dua jenis kunci, yaitu kunci publik (public key) dan kunci rahasia (secret key). Kunci publik merupakan kunci yang digunakan untuk mengenkripsi pesan. Sedangkan kunci rahasia digunakan untuk mendekripsi pesan.
Kunci publik bersifat umum, artinya kunci ini tidak dirahasiakan sehingga dapat dilihat oleh siapa saja. Sedangkan kunci rahasia adalah kunci yang dirahasiakan dan hanya orang-orang tertentu saja yang boleh mengetahuinya. Keuntungan utama dari algoritma ini adalah memberikan jaminan keamanan kepada siapa saja yang melakukan pertukaran informasi meskipun di antara mereka tidak ada kesepakatan mengenai keamanan pesan terlebih dahulu maupun saling tidak mengenal satu sama lainnya.

Algoritma asimetris pertama kali dipublikasikan oleh Diffie dan Hellman pada tahun 1976 dalam papernya yang berjudul “New Directions in Cryptography”. Contoh dari algoritma asimetris adalah RSA, ElGamal, McEliece, LUC dan DSA (Digital Signature Algorithm).

Desain dan Analisis Keamanan Jaringan Pertemuan 5

Mesin Enigma

Pada perang dunia kedua, Jerman menggunakan enigma atau juga disebut dengan mesin rotor yang digunakan Hitler untuk mengirim pesan ke tentaranya. Jerman sangat percaya pesan yang dikirim melalui enigma tidak terpecahkan kode-kode enkripsinya. Tapi anggapan itu keliru,setelah bertahun-tahun sekutu dapat memecahkan kode-kode tersebut setelah mempelajarinya. Setelah Jerman mengetahui kode-kode tersebut terpecahkan, maka enigma yang digunakan pada perang dunia kedua, berberapa kali mengalami perubahan.

Enigma yang digunakan Jerman bisa mengenkripsikan satu pesan mempunyai 15 Miliyar-Miliyar kemungkinan untuk dapat mengdekripsikan satu pesan. Dan dari kemungkinan tersebut Jerman tidak percaya pesan yang dikirim melalui enigma tersebut bisa dipecahkan. Tapi kenyataanya bisa didekripsikan oleh pihak sekutu. Cara kerja enigma akan dibahas pada bagian berikutnya.

Selama bertahun-tahun kriptografi menjadi bidang khusus yang hanya dipelajari oleh pihak militer, seperti agen keamanan Nasional Amerika (National Security Agency), Uni Soviet, Inggris, Perancis, Israel, dan Negara-negara lainnya yang telah membelanjakan miliaran dolar untuk mengamankan komunikasi mereka dari pihak luar, tapi mereka selalu mempelajari kode-kode rahasia Negara lain, dengan adanya persaingan ini maka kriptografi terus berkembang sesuai dengan perkembangan zaman.

Namun pada 30 puluh tahun terakhir ini, kriptografi tidak hanya dimonopoli oleh pihak militer saja, hal yang sama juga dilakukan oleh individu-individu yang menginginkan pesan dan komunikasi kasi mereka tidak diketahui oleh pihak lain, dan setiap individu berhak mengamankan informasi keluarganya, pekerjan, bisnis, dan lainnya. Apalagi pada zaman sekarang ini persaingan yang bergitu tinggi, mereka rela mengeluarkan sekian dolar hanya untuk menjaga privacy mereka. Di bawah ini merupakan mesin kriptografi yang pernah digunakan pada perang dunia ke dua

Senin, 16 Mei 2011

Desain dan Analisis Keamanan Jaringan Pertemuan 4.4

Vigenere Cipher 

Vigenere Cipher adalah suatu algoritma kriptografi klasik yang ditemukan oleh Giovan Battista Bellaso. Beliau menuliskan metodenya tersebut pada bukunya yang berjudul La Cifra del. Sig. Giovan Battista Bellaso pada tahun 1553. Nama vigenere sendiri diambil dari seorang yang bernama Blaise de Vigenere. Nama vigenere diambil sebagai nama algoritma ini karena beliau menemukan kunci yang lebih kuat lagi untuk algoritma ini dengan metode autokey cipher meskipun algoritma dasarnya telah ditemukan lebih dahulu oleh Giovan Battista Bellaso.

Algoritma ini menjadi terkenal karenacukup sulit dipecahkan. Matematikawan Charles Lutwidge Dodgson menyatakan bahwa algoritma ini tidak terpecahkan. Pada tahun 1917, ilmuwan Amerika menyebutkan bahwa Vigenere cipheradalah sesuatu yang tidak mungkin untukditranslasikan. Namun hal ini terbantahkan sejak Kasiski berhasil memecahkan algoritma pada abad ke-19. Pada dasarnya Vigenere Cipher serupadengan Caesar Cipher, perbedaannya adalah pada Vigenere Cipher setiap huruf pesan aslinya digeser sebanyak satu huruf pada kuncinya sedangkan pada Caesar Cipher setiap huruf pesannya digeser sebanyak 1 huruf yang sama.
Algoritma Vigenere Cipher ini menggunakan bujursangkar Vigenere untuk melakukan enkripsi. Setiap baris di dalam bujursangkar menyatakan huruf-huruf ciphertext yang diperoleh dengan Caesar cipher. Untuk lebih jelasnya perhatikan gambar 2 di bawah ini. Deretan huruf kuning mendatar merepresentasikan plaintext, sedangkan deretan huruf hijau menurun merepresentasikan kunci.

Vigenere chiper merupakan salah satu algoritma kriptografi klasik untuk menyandikan suatu plaintext dengan menggunakan teknik substitusi.Vigenere cipher pada dasarnya cukup rumit untuk dipecahkan. Meskipun begitu, Vigenere cipher tetap memiliki kelemahan. Salah satunya adalah dapat diketahui panjang kuncinya dengan menggunakan metode kasiski. Hal ini disebabkan karena umumnya terdapat frasa yang berulang-ulang pada ciphertext yang dihasilkan.

Enkripsi : Ci= (Pi+Ki) mod 26
Deskripsi : Pi= (Ci+Ki) mod 26

Untuk menyandikan pesan, digunakan sebuah pesan alphabetis yg di urut, dan di geser 1 shift untuk alphabet yg selanjut nya.

A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z
B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z A
C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z A B
Dst..

1. Contoh penyelesaian vigenere chiper sederhana:

Plainteks : azizul hakim prabowo
Key : inform atika informa
Maka, akan di dapat kan chiperteks :
imnokx atssm xefpfio

2. Penyelesaian vigenere chiper menggunakan pembangkit kunci euler

Plainteks : KILL KING TONIGHT OR DIE
Key :  BUDI

e = 2.71828182845904523536028747135266249775724709369995957496696762772407……

ambil banyak digit sesuai dengan panjang plainteks (18)
Ubah key menjadi angka, 1 20 3 8
setelah itu kalikan dengan bilangan euler
12038 x 27182818284590452353 = 327226766509899865425414
Pisahkan 3 sesuai banyak nya palinteks 3 27 2 26 76 6 50 98 9 98 65 4 25 41 4
Kemudian ubah bentuk menggunakan mod 26 = D B C CG Y G FA U J JI N E CF P E

Akhir :
Plainteks : KILL KING TONIGHT OR DIE
Key : DBCC GYGF AUJJINE CF PED
Chiperteks : NJNN QGTL TIWROUX QW SMH

Desain dan Analisis Keamanan Jaringan Pertemuan 4

Algoritma Kriptografi Klasik
Algoritma kriptografi klasik:
1. Cipher Substitusi (Substitution Ciphers)
2.Cipher Transposisi (Transposition Ciphers)
Cipher Substitusi
Contoh: Caesar Cipher
Tiap huruf alfabet digeser 3 huruf ke kanan
pi : A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X
Y Z
ci : D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z A
B C
Contoh:
Plainteks: AWASI ASTERIX DAN TEMANNYA OBELIX
Cipherteks: DZDVL DVWHULA GDQ WHPDQQBA REHOLA
Kelemahan:
Caesar cipher mudah dipecahkan dengan
exhaustive key search karena jumlah kuncinya
sangat sedikit (hanya ada 26 kunci).
Caesar chiper termasuk chiper abjad tunggal
Contoh: kriptogram XMZVH
PHHW PH DIWHU WKH WRJD SDUWB
KEY
1 oggv og chvgt vjg vqic rctva
2 nffu nf bgufs uif uphb qbsuz
3 meet me after the toga party
4 Ldds ld zesdq sgd snfz ozqsx
5 kccr kc ydrcp rfc rmey nyprw
6 …
21 ummb um inbmz bpm bwoi xizbg
22 tlla tl hmaly aol avnh whyaf
23 skkz sk glzkx znk zumg vgxze
24 rjjy rj fkyjw ymj ytlf ufwyd
25 qiix qi ejxiv xli xske tevxc
Cipher abjad-tunggal
Satu huruf di plainteks diganti dengan satu huruf
yang bersesuaian.
Jumlah kemungkinan susunan huruf-huruf
cipherteks yang dapat dibuat adalah
sebanyak
26! = 403.291.461.126.605.635.584.000.000
Cipher abjad-tunggal
Jumlah kemungkinan kunci = 26!
Tidak dapat menyembunyikan hubungan
antara plainteks dengan cipherteks.
Huruf yang sama dienkripsi menjadi huruf
cipherteks yang sama
Huruf yang sering muncul di dalam palinteks,
sering muncul pula di dalam cipherteksnya.
Oleh karena itu, cipherteks dapat didekripsi tanpa
mengetahui kunci (ciphertext-only attack)
Metode yang digunakan:
1. Terkaan
2. Statistik (analisis frekuensi)
Informasi yang dibutuhkan:
1. Mengetahui bahasa yang digunakan untuk plainteks
2. Konteks plainteks
Cipher abjad-majemuk (Polyalpabetic
substitution cipher )
3. Cipher abjad-majemuk (Polyalpabetic substitution
cipher )
Cipher abjad-tunggal: satu kunci untuk semua huruf
palinteks
Cipher substitusi-ganda: setiap huruf menggunakan
kunci berbeda.
Cipher abjad-majemuk dibuat dari sejumlah cipher abjadtunggal,
masing-masing dengan kunci yang berbeda.
Kebanyakan cipher abjad-majemuk adalah cipher
substitusi periodik yang didasarkan pada periode m.
• Plainteks:
P = p1p2 … pmpm+1 … p2m …
• Cipherteks:
Ek(P) = f1(p1) f2(p2) … fm(pm) fm+1(pm+1) … f2m(p2m) …
• Untuk m = 1, cipher-nya ekivalen dengan cipher abjadtunggal.
Contoh cipher substitusi periodik adalah cipher Vigenere
Kunci: K = k1k2 … km
ki untuk 1 i m menyatakan jumlah pergeseran pada huruf ke-i.
Karakter cipherteks: ci(p) = (p + ki) mod 26 (*)
Misalkan periode m = 20, maka 20 karakter pertama dienkripsi
dengan persamaan (*), setiap karakter ke-i menggunakan kunci ki.
Untuk 20 karakter berikutnya, kembali menggunakan pola enkripsi
yang sama.
Contoh: (spasi dibuang)
P : KRIPTOGRAFIKLASIKDENGANCIPHERALFABETMAJEMUK
K : LAMPIONLAMPIONLAMPIONLAMPIONLAMPIONLAMPIONL
C : VR...
Perhitungan:
(K + L) mod 26 = (10 + 11) mod 26 = 21 = V (R + A) mod 26 = (17 + 0) mod 26 = 17 = A dst
Contoh 2: (dengan spasi)
P: SHE SELLS SEA SHELLS BY THE SEASHORE
K: KEY KEYKE YKE YKEYKE YK EYK EYKEYKEY
C: CLC CIJVW QOE QRIJVW ZI XFO WCKWFYVC
Cipher Transposisi
Ciphereteks diperoleh dengan mengubah posisi
huruf di dalam plaintekls.
Dengan kata lain, algoritma ini melakukan
transpose terhadap rangkaian huruf di dalam
plainteks.
Nama lain untuk metode ini adalah permutasi,
karena transpose setiap karakter di dalam teks
sama dengan mempermutasikan karakterkarakter
tersebut.
Contoh: Misalkan plainteks adalah
DEPARTEMEN TEKNIK INFORMATIKA UNS
Enkripsi:
DEPART
EMENTE
KNIKIN
FORMAT
IKAUNS
Cipherteks: (baca secara vertikal)
DEKF IEMN OKPE IRAA NKMU RTIA NTEN TS
Contoh lain. Misalkan plainteks adalah
CRYPTOGRAPHY AND DATA SECURITY
Plainteks disusun menjadi 3 baris (k = 3) seperti di bawah ini:
C T A A A E I
R P O R P Y N D T S C R T
Y G H D A U Y
maka cipherteksnya adalah
CTAAAEIRPORPYNDTSCRTYGHDAUY